Saya seorang anak bungsu
yang bernama Vany Ayudisty, biasanya dipanggil Pani ataupun Pane. Jarang sekali
orang-orang memanggil namaku dengan benar, terkecuali Papa. Dialah satu-satunya
orang yang selalu memanggilku dengan benar, seperti yang tertulis di akte dan
ijazah. Vany bukan Pani apalagi Pane. Sudah seperti marga saja pikirku.
Terkadang ada rasa kesal jika
dipanggil tidak sesuai dengan ejaan yang berlaku. Namun, aku telah terbiasa
dipanggil Pani bukan Vany. Mengingat memang huruf F dan V selalu dilafalkan
sama dengan P oleh orang-orang termasuk diriku sendiri. Terasa senang bila ada
yang memanggil atau menyebutku Vany, tetapi panggilan itu hanya terdengar
oleh orang-orang yang baru mengenalku. Ataupun orang-orang yang lidahnya
terbiasa melafalkan F dan V seperti yang seharusnya. Pani merupakan panggilan
yang terdengar akrab. Apalagi Pane, teman-teman terdekat yang memanggil dan
menyebutku dengan Pane.
Terkesan sedang mengungkapkan curahan
hati tetapi tidak begitu. Mungkin memang sudah keadaan lingkunganku sulit
untuk melafalkan F dan V. Bukan sulit, lebih tepatnya tidak terbiasa. Apapun
itu orang-orang memanggilku baik Vany, Pani maupun Pane aku senang. Tapi lebih
terasa senang ketika terdengar benar seperti yang semestinya. Vany, begitulah
yang selalu terdengar olehku dari Papa. Satu-satunya orang yang memanggilku
dengan benar. Mungkin karena Papa yang telah memberikan nama tersebut. Atau,
mungkin juga karena faktor keterbiasaan Papa dalam melafalkan huruf dengan
benar. Sedikit bercerita Papa bukan orang Medan alias anak perantauan. Papa
lahir di Pandeglang, dan dibesarkan di Jakarta. Opa berprofesi sebagai polisi
sedangkan Oma sebagai guru. Oleh karena itu mungkin di keluarga Papa dibiasakan
dan terbiasa melafalkan abjad dengan benar. Lain hal dengan Mama, yang
merupakan asli Medan. Lahir dan dibesarkan di kota kita tercinta ini. Kakek
merupakan TNI dan Nenek merupakan IRT. Jadi logat Papa dan Mama pun sudah
berbeda, dari asal lahir dan lingkungannya. Papa selalu lemah lembut namun
tegas kepadaku, sedangkan Mama sebaliknya. Mama bukan kasar namun lebih ke Anak
Medan gitu, memakai aku-kau. Kalau Papa selalu menyebut dirinya Papa tidak
pernah memakai aku. Dan tidak meng-kau-kan aku. Selalu menggunakan kamu. Begitu
juga saat memanggil namaku, Mama memanggilku Pani dan Papa memanggilku Vany.
Apapun panggilan dari Mama dan Papa aku suka dan terbiasa, I love u both guys.
Dan terlepas pada apapun itu selalu bergantung pada kebiasaan. Layaknya
pepatah “Alah Bisa Karena Biasa”.
Posting Komentar
Posting Komentar