Si Sulung dari Kota Industri
Katanya menjadi anak sulung itu
merupakan hal yang sangat istimewa. Mengayomi adik-adik dan memiliki tanggung
jawab penuh atas mereka. Ya, aku si Sulung dari empat bersaudara. Adik ku tiga;
dua perempuan dan satu laki-laki. Bagiku, menjadi sulung sangat berat. Berat sekali.
Ditambah lagi hidup dengan banyak tuntutan dari orang tua. Harus bisa ini dan
harus bisa itu.
Aku lahir dari keluarga sederhana
di kota ku. Aku berasal dari kota kecil di Kepulauan Riau. Kota ku sangat dekat
dengan Singapura, akibatnya kami cepat terkena arus globalisasi. Kota ku
merupakan kota Industri dan termasuk dalam jantung Indonesia. Oleh karena itu,
kota ku disebut sebagai Bandar Dunia Madani. Ya, aku berasal dari kota Batam. Ayah
ku hanya seorang karyawan swasta biasa di Batam. Ibu ku hanya seorang ibu rumah
tangga, yang setiap hari harus mengantar jemput kami semasa sekolah dan les. Hidup
sederhana di kota yang biaya hidupnya besar membuat aku dan adik-adikku tahu
betapa susahnya orang tua kami menyekolahkan kami. Tapi puji Tuhan, semua
kebutuhan dapat tercukupi.
Aku hidup dengan begitu banyak
tuntutan orang tua serta begitu banyak aturan rumah. Sedari SD, aku selalu memperoleh
juara kelas, hingga aku SMP. Bagi ku, prestasi adalah hal biasa, bahkan lebih
tepatnya aku memang harus memperoleh juara. Tapi, aku tidak pernah mendapat
apresiasi dari keluarga ku pada dasarnya. Tak apa. Sudah biasa, batinku. Aku selalu
berada di sekolah favorite di kota
ku, selalu berada di kelas unggulan, dan kerap mendapat juara. Namun, bagi Ibu
ku secara khusus, itu adalah hal wajar yang harus aku raih karena aku sudah les
sejak dahulu. Kegiatan ku hanya pergi sekolah, pulang, les dan kembali belajar
di rumah. Itu semua harus ku lakukan hingga aku menginjak bangku SMA.
Sejak SMA, aku tetap masuk ke
sekolah nomor satu di kota ku, bahkan aku masuk ke dalam kelas unggulan
kembali. Namun, sangat disayangkan aku tidak pernah mendapat juara kelas
kembali sejak aku SMA. Awalnya, Ibu ku sangat marah. Namun, aku memberi tahu
bahwa aku berada di sekolah yang untuk lulus test nya saja pun sangat sulit,
bahkan aku ditempatkan di kelas unggulan. Awal-awal Ibu ku sangat sulit
menerima hal tersebut, lama kelamaan cuek saja.
Masa SMA merupakan masa paling
indah bagiku, karena aku lumayan bisa bebas menjalani kegiatan ku. Dimasa SMA,
aku les private sehingga aku bisa sesuka ku
mengatur jadwal ku. Aku sering cabut les demi pergi jalan bersama teman-teman
ku, wah nakal nya aku. Aku juga pernah cabut dari sekolah karena ingin pergi
menonton bersama teman. Ya, masa SMA ku aku sudah mulai membandel. Melanggar setiap
aturan rumah yang telah dibuat dengan pulang malam walau alasan les, padahal
sih setelah les malah pergi makan bersama teman. Tapi satu hal yang paling aku
suka dimasa SMA ku adalah, aku bisa berprestasi dibidang yang memang aku sangat
sukai. Aku sangat menyukai bidang tarik suara. Aku tergabung dalam paduan suara
sekolah. Aku rela latihan fisik hanya untuk dapat mengikuti lomba di antara
paduan suara sekolah lain. Aku menjadi penyanyi inti di paduan suara sekolah ku
dan kami memenangkan lomba paduan suara tingkat SMA sekota Batam. Dan kami
beroleh juara satu. Aku memang berasal dari keluarga yang sangat menyukai
musik. Ayahku merupakan pemain gitar gereja ku. Ibu ku adalah seorang yang
sangat menyukai tarik suara. Suara nya jangan kau ragukan lagi, dia bahkan
penyanyi senior gereja ku dan bahkan selalu disuruh bernyanyi disetiap event yang dia hadiri. Singkatnya, musik
merupakan bagian dari hidup ku sejak kecil.
Ada satu hal yang sulit bagi si Sulung,
yakni dalam hal meminta sesuatu. Hal tersebut sulit karena harus memikirkan
hal-hal yang lain. Tidak boleh egois katanya. Padahal, aku suka dengan hal-hal
baru. Namun, untuk mendapatkan sesuatu aku harus berupaya lebih. Harus membujuk
dengan sekuat tenaga, eh ternyata tak mendapat. Harus menabung katanya,
ternyata ketika sudah terkumpul malah dipakai untuk keperluan lain. Banyak hal
yang harus ku lakukan agar mendapat yang ku inginkan, tak jarang aku harus
belajar gigih demi juara agar menjadi perhatian keluarga besar, lalu kemudian
mendapat reward dari tante-tante ku. Tapi,
hal ini yang membentuk si Sulung tersebut menjadi kuat. Menjadi mandiri. Menjadi
orang yang memiliki visi misi kedepan nya harus bagaimana. Diletakkan dimana
pun tak masalah, termasuk harus berkuliah di Medan dan hidup menumpang dirumah
saudara. Hidup menurut aturan tuan rumah, bekerja mengurus rumah, mengurus keperluan
kuliah dan kegiatan lainnya. Hal ini membuatku berkembang menjadi pribadi yang
tidak manja, pribadi yang tidak bergantung dengan orang lain, pribadi yang
belajar mengusahakan apa pun demi yang dia inginkan, pribadi yang bertanggung
jawab untuk setiap tugasnya dan pribadi yang tidak ingin menyusahkan orang
lain, termasuk keluarga nya. Beginilah kisahnya, si Sulung dari kota Industri,
Debra Nila.
Si sulung juga harus bahagia😊
BalasHapusuwuuuu, duo sulungku
BalasHapusaku sama kau, kan sama2 sulung. gitu maksudnya haha
Hapus