Hai! Namaku Lidya Sutanto. Sejak
kecil, anggota keluarga intiku memanggil aku dengan sebutan Lily, bunga Lily.
Cantik, bukan? Salah satu kerabat dekat Papa-ku kerap memanggilku dengan
sebutan Darling, alias Dadar Guling (entah darimana idenya, aku pun tidak
tahu), dan terakhir, mantan-mantan pacarku dulu, yang katanya tidak bisa hidup
tanpaku itu, sewaktu masih menjalin hubungan asmara denganku, memanggilku
dengan sebutan sayang. Tetapi aku mohon, sebaiknya kalau hanya sekedar teman
biasa, panggil saja aku Lidya, jangan Sutanto karena itu nama Papa-ku, apalagi
memanggilku dengan sebutan sayang, bisa-bisa aku menganggapmu aneh, hahaha!
Aku lahir tahun 1999, tanggal 12
September, hari Minggu subuh, di Bekasi. Bagiku, Bekasi selalu istimewa,
walaupun ia bukan Yogyakarta. Aku lulus dari SD Negeri 8 Pekayon Jaya, SMP
Swasta Driewanti, SMA Negeri 3 Bekasi, lalu saat ini sedang menempuh kuliah di
Universitas Sumatera Utara, Medan. Aku merantau.
Merantau tidak pernah menjadi hal
mudah untukku, yang seumur hidupnya belum pernah jauh dari orang tua. Saat
pertama kali menginjak tanah Medan, aku sempat mengalami Culture Shock, puji Tuhan aku mampu melewati fase tersebut.
Sebenarnya aku tipe orang yang sulit
mengenali diri sendiri, terkadang dalam satu waktu bersamaan aku bisa mau dan
tidak mau, bisa marah sekaligus kasihan, dsb. Oleh sebab itu, aku
terheran-heran saat ada orang yang menyatakan bahwa dia mengenalku dengan baik
namun pada kenyataannya masih melakukan hal yang mengecewakanku.
Aku adalah Lidya dengan kepribadian
introvert, yang berlatih keras supaya ahli juga dalam kemampuan ekstrovert,
bisa bersosialisasi sebaik mungkin dengan banyak orang, dan lain sebagainya.
Aku adalah introvert sejati. Sebenarnya, terkadang aku memiliki masalah dengan
kepercayaan diri, susah sekali untuk melihat sesuatu yang positif dari diriku
walaupun sebenarnya ada banyak yang bisa aku syukuri. Aku masih berlatih hingga
saat ini.
Kalau bahas makanan, aku suka semua,
kecuali yang terlalu pedas, terlalu asin, terlalu asam, terlalu manis. Dalam
hidupku ini, masakan Papa dan Mamaku adalah yang paling pas di lidahku. Papa
cerdas sekali dalam memasak masakan Chinese, sedangkan mampu memasak masakan
Batak dengan bumbu-bumbu yang banyak itu baik sekali. Sayang, aku masak kalau
kegiatanku dan kemageranku sedang bisa kompromi. Kalau tidak, aku makan terbang. Istilah itu dipakai untuk
mereka yang makannya di luar rumah, dan tidak menetap, tergantung situasi dan
kondisi.
Musik adalah hidupku, tidak bisa aku
hidup tanpa musik. Kalau ditanya kenapa, karena…. tidak tahu. Aku tidak tahu
kenapa. Memangnya cinta terhadap sesuatu harus ada alasan? Menurutku tidak.
Aku bisa bernyanyi sesuai dengan
nada, sedikit mampu memainkan alat musik gitar, piano, bass, dan drum, tapi
sedikit saja. Alat musik yang pertama kali kupelajari adalah gitar. Sejak kelas
4 SD. Aku belajar semua alat musik ini sendiri, kecuali piano. Aku sempat
menempuh kursus selama 3 bulan, namun tidak tahan karena aku tidak suka
keteraturan dan juga jadwal.
Kepribadian anak musik yang kamu
dengar tidak semuanya benar, loh. Aku tidak pilih-pilih kawan, tidak merokok,
apalagi memakai narkoba. Terkadang aku pulang larut malam, namun aku pasti
meminta izin pada kedua orang tuaku, dan hatiku peka. Sangat lembut. Aku tidak
neko-neko dalam mengerjakan sesuatu. Kalau kamu kenal aku sedikit lebih lama,
aku ini gila hahaha!
Posting Komentar
Posting Komentar