Beberapa tahun belakangan ini, efek dari globalisasi sudah semakin bervariasi dan memiliki dampak positif juga negatif bagi seluruh generasi. Namun, bisa kita perhatikan, generasi yang paling terpengaruh oleh globalisasi saat ini adalah generasi Z, yang merupakan generasi dengan tahun kelahiran 1995 sampai 2010, dan generasi Alpha, yang merupakan generasi dengan tahun kelahiran 2010 sampai sekarang.
Generasi Z dan generasi Alpha, merupakan generasi hasil peralihan dari Generasi Baby Boomers, yaitu generasi dengan tahun kelahiran sebelum 1960, ke generasi X, yaitu generasi dengan tahun kelahiran 1961 sampai 1980, ke generasi Y, yaitu generasi dengan tahun kelahiran 1981 sampai 1994, dimana kecanggihan teknologi pada saat itu belum berkembang sepesat pada tahun-tahun kelahiran generasi Z dan Alpha. Mereka yang lahir pada tahun-tahun generasi Z dan generasi Alpha, kerap lebih mudah berbaur dengan teknologi, di usia mereka yang masih terbilang kanak-kanak pun, sudah mampu mengoperasikan gadget dan smartphone. Sayangnya, dampak dari perkembangan teknologi ini tidak bisa dihindari, baik itu baik atau buruk, hanya bisa diminimalisir.
Tidak jarang orangtua salah memanfaatkan perkembangan teknologi saat ini, terutama dalam penggunaan smartphone untuk anak-anak. Penggunaan smartphone yang tidak dibatasi mampu membuat pertumbuhan seorang anak terhalang. Yang seharusnya bisa mengeksplorasi minat dan bakat sejak dini, menanamkan norma-norma baik, dan lain sebagainya menjadi terhambat, bahkan parahnya bisa memblokir pemikiran anak tersebut, karena smartphone yang kita kenal mampu mengubah siapapun, entah menjadi baik, entah menjadi buruk. Anak-anak belum memiliki konsistensi dalam mengendalikan dirinya, oleh sebab itu perlu arahan dan batasan dari orangtuanya. Banyak anak-anak yang tumbuh bersama dengan perkembangan teknologi tanpa arahan dari orangtuanya, semisal ketika ayah atau ibunya sedang sibuk dengan urusan masing-masing, anaknya akan mulai diberi ‘pengalih’ berupa game online yang ada di smartphone, supaya fokus terhadap hal tersebut agar tidak mengganggu atau mencampuri urusan ayah atau ibunya. Akibatnya, anak-anak menjadi kecanduan terhadap smartphone tersebut.
Game online memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi anak-anak yang sering ditinggal orangtuanya, karena tanpa sadar membuat waktu berlalu begitu cepat. Dalam beberapa kasus, gamer online bila difokuskan, mampu menghasilkan uang, baik melalui lomba nasional atau internasional, atau Youtube channel, namun dalam beberapa kasus lain, game online bahkan menjadikan seseorang kehilangan akal sehat, kelumpuhan syaraf, kerugian dan kematian. Hal inilah yang perlu diwaspadai oleh semua pengguna game online, terutama bagi orangtua yang anak-anaknya gemar bermain game online, perhatian khusus wajib diberikan agar anak-anak tetap berada pada jalur yang tepat.
Terdapat satu kasus, seorang ibu bernama Ririn Ike Wulandari, menceritakan pengalaman hidupnya di akun pribadinya, Facebook. Anaknya membeli diamond untuk game online tertentu, dan mengakibatkan pembayaran tagihan bagi dirinya dan sang suami sebesar belasan juta. Anaknya melakukan berbagai cara agar tetap melanjutkan game online kesayangannya tanpa gangguan dan semakin baik, tidak disadari pembelian diamond itu menggunakan uang nyata. Dalam kasus ini, anak tidak sepenuhnya salah karena yang ada dalam pemikirannya adalah kenyamanannya selama bermain game, dan terbatasnya pengetahuan anak tersebut mengenai pembelian diamond tersebut. Justru orangtualah yang bertanggung jawab atas kelalaian dalam mengurus anaknya. Kegemarannya dalam game online ini berkembang menjadi sebuah konsumerisme.
Konsumerisme tidak hanya dimiliki oleh kaum-kaum dengan umur tinggi, namun di kalangan remaja pun konsumerisme sudah mulai masuk. Masa remaja adalah masa peralihan, masa pencarian jati diri, di mana mereka kerap melakukan apa yang dianggap sedang trend agar dapat diterima oleh lingkungan sosialnya, mendapat rasa percaya diri, mendapat penghargaan, dan sebagainya. Biasanya kelompok remaja yang rentan terkena konsumerisme ini adalah kelompok remaja yang berada di daerah kota, mengingat perkembangan teknologi di daerah perkotaan lebih cepat masuk dibanding di daerah desa atau kampung-kampung terpencil, walaupun tidak menutup kemungkinan mereka juga terkena.
Posting Komentar
Posting Komentar