Ilmu Komunikasi A USU 2018

Blog ini dibuat bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah keterampilan berkomunikasi 2.

Wisata Halal atau Muslim Friendly?


Halal. Ketika mendengar kata halal, orang-orang akan berpikir tentang makanan yang diperbolehkan dalam Islam. Padahal, kata halal memiliki arti yang luas dan tidak hanya berpusat pada makanan. Salah satunya konsep daerah wisata. Beberapa waktu belakangan ini, sedang ramai dibincangkan tentang konsep wisata halal di Indonesia. Sama seperti kebijakan lainnya, konsep ini juga mendapat pro dan kontra dari masyarakat. Tidak hanya masyarakat saja, tetapi beberapa pemerintah daerah juga menolak konsep yang diajukan oleh Kementerian Kepariwisataan ini. Salah satu alasan terbesar ditolaknya kebijakan ini adalah pluralitas atau kemajemukan yang ada di Indonesia. Sebagian masyarakat yang setuju menganggap bahwa kebijakan ini memang diperlukan untuk memudahkan turis muslim mendapatkan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhannya. Sedangkan, mereka yang kontra merasa kebijakan ini nantinya akan menggeser kebudayaan asli daerah mereka.
Daerah - daerah dengan branding daerah wisata budaya seperti Bali, Labuan Bajo, dan Toraja dengan tegas menolak kebijakan ini. Hal ini sangat wajar, mengingat mayoritas masyarakat daerah tersebut bukanlah orang yang beragama Islam dan kebudayaan mereka tentunya bertolak belakang dengan hukum Islam. Begitu pula di kawasan Danau Toba. Mayoritas penduduk asli Danau Toba adalah orang-orang bersuku Batak dan Karo beserta peranakannya yang tidak menganut agama Islam. Ketika mendengar wisata halal akan diterapkan di Danau Toba, mereka pasti berpikir kebudayaan Islam akan dikembangkan di sana sehingga timbul kekhawatiran masyarakat karena salah satu daya tarik wisata terbesar daerah mereka adalah kebudayaan tradisionalnya. Menurut mereka, daerah wisata dengan mayoritas penduduk muslim lebih membutuhkan konsep wisata halal agar potensi wisata daerah tersebut lebih berkembang seiring dengan kebudayaan Islamnya. Contohnya wisata religi pondok pesantren di daerah Jawa Timur.
Karena banyaknya kesalahpahaman yang ada di masyarakat, akhirnya Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memberikan penjelasan kepada masyarakatnya bahwa yang dimaksud dengan wisata halal adalah daerah wisata yang ramah untuk wisatawan muslim. Ramah dalam arti daerah tersebut memiliki fasilitas yang dibutuhkan oleh wisatawan muslim, seperti masjid atau mushola untuk tempat ibadah dan tersedianya makanan-makanan yang dijamin halal. Tujuan utama dibuatnya kebijakan ini adalah untuk menarik minat para wisatawan muslim luar negeri dengan kemudahan yang didapatnya ketika berkunjung ke daerah wisata di Indonesia. Setelah penjelasan didapat, kesalahpahaman di masyarakat pun mulai berkurang.
Lalu, apa sebenarnya yang membuat banyaknya kesalahpahaman di masyarakat tentang wisata halal ini? Jika dilihat dari pemilihan kata yang digunakan, tentu saja akan menimbulkan makna yang berbeda dari apa yang diharapkan. ‘Menerapkan Wisata Halal di Danau Toba’, tentu orang akan berpikir bahwa segala yang haram dalam Islam akan dilarang beredar di Danau Toba. Hal itulah yang menyebabkan banyak masyarakat menjadi kontra dengan kebijakan tersebut. Jika pemerintah menggunakan istilah yang lebih ringan dan familiar seperti muslim friendly, pasti masyarakat akan lebih mudah mengerti dan kesalahpahaman bisa dihindari. Selain itu, karena kemajemukan dalam masyarakat Indonesia, segala isu dan kebijakan yang berkaitan dengan SARA sifatnya sangat sensitif. Namun, jika dilihat dari tujuan yang ingin dicapai, kebijakan ini sangat bagus dan membantu tetapi kurang efektif karena mayoritas turis luar negeri pasti akan menginap di hotel yang menyediakan makanan halal dan tempat ibadah. Kebanyakan dari mereka juga lebih memilih makanan fastfood yang rasanya akan lebih cocok di lidah mereka dibanding makanan khas setempat. Jadi, jika pemerintah tetap ingin mencanangkan kebijakan yang bagus ini, lebih baik tanpa menggunakan embel-embel wisata halal agar lebih mudah diterima oleh masyarakat umum dan tepat sasaran.  

Related Posts

Posting Komentar

Writers

Aisha Tania Sinantan Sikoko 4 Alfi Bardan 3 Alya Elmi Niyana 3 Annisa 3 Anthony Dhasdo Siallagan 1 Aprilia 3 Arief Ramadhan Djiwandana 3 Chalista Putri Nadila 4 Christoper Aprilio Herdimas Siregar 3 Cici Handayani Br.Ginting 4 Cut Yasmine Amalia Nurazzahra 4 Dai Ridho Ritonga 2 Debora Ginting 3 Debra Nila Mesita Yohana 4 Devita Sandra Milenia 3 Dinda Rahma Puspita Daulay 2 Dira Zulfi Chairunnisa 1 Diva Annisa Siregar 2 Erizki Maulida Lubis 4 Esai 40 Essay 1 Evi Septianti Br Perangin-Angin 4 Fatima Apriani Harahap 4 Fauzi Akbar 3 Feature 7 Fitri Fajriah Harapan 2 Galih Muhammad Soaloon Lubis 2 Game 1 Grace Immanuella Pascauli Hasugian 4 Gress Miya Tobina Tarigan 3 Habil Jabbar Jamack 1 Howen Jayawi 3 Jeremi Chris Sandra Brahmana 1 Jesika Gultom 3 Jihan Afrah 4 Karina Hanna Afriaty 4 Katerina Cheryl Dwi Anugrah 2 Khairunnisa 2 Konsumerisme 1 Lidya Sutanto 3 Maeka Naoma Tobing 2 Megan Lisandra Elmira 2 Meli Deliana Kamila 1 Mira Miareta Putri 1 Misrul Azizah 2 Muhammad Adriansyah Lubis 2 Muhammad Fikri Razak 4 Muhammad Hamli Rizki 4 Muhammad Ricky Al Fazril 2 Muhammad Ryan Alfarizi Nawar 3 Muhammad Taufan Mulia Harahap 4 Mukhlis Lahuddin Harahap 3 Nur Rahmi Aqilia 2 Nurkhaliza Lubis 4 Prayer Nugraha M Sitorus 2 Puan Nadiya Maghfirah 2 Rafika Rizki Nurhadi 1 Raja Salsabila Pasha 2 Restika Juliana Silalahi 3 Review 10 Risya Nur Hasanah Saragih 1 Rizka Farha Aulia 3 Rohid Zulfikar Ashari 3 Sania Febrita Br Sembiring 3 Shalli Aggia Putri 2 Shilva Devira 1 Suci Syahfitri Ani 3 Syafira Pohan 3 Tentang Kami 66 Timotius Dwiki Meglona Hutabarat 4 Tsani Afifah 4 tutorial 1 Valencia Christiani Zebua 4 Vany Ayudisty 1 Widya Tri Utami 1