Hai, aku adalah seorang
gadis yang bernama lengkap Dinda Rahma Puspita Daulay. Orang-orang biasa
memanggilku Dinda, namun terkadang orang terdekat seperti keluarga akan
memanggilku Puspita. Aku dilahirkan di sebuah kota kecil yang ada di Provinsi
Sumatera Utara yaitu kota Rantauprapat, tepatnya pada tanggal 19 Maret 2000.
Menurut rasi bintang atau biasa disebut Zodiak, kelahiran 19 Maret termasuk
kedalam Zodiak dengan lambang ikan berenang dengan arah berlawanan atau yang disebut
Pisces. Katanya, orang-orang yang memiliki Zodiak Pisces ini adalah orang-orang yang
terlalu perasa, atau dengan kata lain selalu mengutamakan perasaan dalam kehidupannya.
Entah itu suatu kebetulan atau tidak, namun aku mengakui bahwa aku adalah orang
yang mengutamakan perasaan ketika melakukan suatu hal atau menghadapi masalah.
Jika melakukan sebuah tindakan dalam sebuah persoalan aku akan memikirkan
berulang-berulang kali, apakah tindakanku itu tepat atau tidak, apakah aku akan
membuat orang lain tersakiti, atau ketika aku tidak bisa melakukan suatu hal
aku cenderung khawatir akan mengecewakan orang lain. Ketika membicarakan suatu
hal dengan teman-temanku, aku sering mengaitkannya dengan perasaan, sehingga
mereka sering mengatakan aku terlalu Baper (Bawa Perasaan).
Aku termasuk gadis
yang terlalu over thinking dan mudah cemas, bahkan terkadang aku akan
memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Ah, percayalah itu sangat buruk
dan membuat kepala pusing sendiri. Namun terkadang hal itu juga berdampak baik
bagiku, dengan begitu aku mampu mengendalikan diri dan mengatasi masalah dengan
berpikir jernih sebelum bertindak. Ketika sedang marah, kesal, dan sedih, aku
akan diam dan menjauh, namun ketika amarah ku sudah tak mampu untuk aku pendam
aku akan menumpahkannya dengan menangis, jika sudah merasa lebih tenang barulah
aku akan mengungkapkan perasaan dan isi hatiku.
Aku hidup ditengah-tengah keluarga sederhana. Ayahku
bekerja sebagai seorang wiraswasta yaitu memiliki usaha pertukangan dan
pembuatan perabot rumah tangga. Ayah merupakan orang yang keras dan tegas dalam
mendidik, namun disamping itu ayah adalah seorang yang penyayang dan mampu
memanjakan anak-anaknya dengan caranya sendiri. Ibuku adalah pegawai di sebuah
perusahaan swasta. Walaupun ibu seorang wanita karier, tapi ibu selalu
meluangkan waktunya untuk keluarga. Karena bagi ibu, keluarga adalah prioritas
utama. Ibu akan berangkat kerja pada pukul 8 pagi dan pulang pada pukul 5 sore,
dan waktu yang tersisah itu akan selalu dimanfaatkan ibu untuk keluarga. Ibuku
adalah orang yang sangat sabar dan pengertian, jika menghadapi sebuah masalah
ibu akan lebih banyak mengalah agar tidak memperparah suasana katanya. Aku
adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Menurutku aku adalah orang yang
beruntung, karena memiliki porsi lengkap dalam persaudaraan. Aku memiliki kakak
sebagai tempatku bercerita dan mengajariku dalam berbagai hal, seorang abang
yang melindungi dan menjagaku, dan seorang adik laki-laki yang bisa menjadi
teman berkelahi maupun bercanda.
Jika berbicara soal hobi, aku suka membaca novel, baik
itu novel berbentuk cetak atau elektronik dengan berbagai genre. Ketika membaca
aku mampu menghabiskan waktu berjam-jam dan terhanyut dalam cerita yang aku
baca, dan aku merasa sangat senang ketika menceritakan kembali cerita yang aku
baca. Menonton, menggambar, dan bernyanyi juga menjadi hobiku. Belakangan ini
aku juga senang menulis dan sedang berusaha untuk menulis sebuah cerita yang
bagus. Menurutku, ketika menulis aku mampu mengekspresikan pemikiranku atau
perasaan yang sedang aku rasakan, yang mungkin bisa membuat orang lain suka dan
terinspirasi.
Aku seorang gadis yang mudah bergaul, walaupun ketika
diawal pertemuan aku akan terkesan pendiam, percayalah itu hanya karena aku
ingin menyesuaikan diri dalam lingkungan yang baru aku jumpai. Jika sudah
merasa nyaman dan menaruh kepercayaan terhadap orang lain, aku akan sangat
mudah untuk terbuka dan menceritakan masalah yang sedang aku hadapi, namun aku
juga akan mengoreksi terlebih dahulu orang seperti apa yang akan aku jadikan
teman curhatku dan masalah seperti apa yang pantas atau tidak untuk aku
bagikan. Jika kepercayaan yang sudah aku berikan dirusak, aku akan menjaga
jarak dan bisa saja menjauh dari orang tersebut.
Aku termasuk anak yang ceria dan cerewet sedari kecil.
Jika sudah bercerita aku akan berceloteh panjang lebar. Aku juga orang yang
mudah tertawa dan merasa lucu, bahkan dengan hal-hal kecil yang mungkin
dianggap beberapa orang tidak ada kelucuan sama sekali. Oke, katakan saja aku
ini receh. Yah, tapi memang seperti itulah aku.
Jika berbicara soal kehidupan, pasti setiap orang
memiliki masalah dan ujian dalam hidupnya. Begitu pula aku, banyak masalah dan
ujian yang telah aku lalui, tapi selama hidupku masih terus berlanjut maka
masih banyak masalah dan ujian yang harus dihadapi kedepannya. Disini aku ingin
menceritakan permasalahan dan ujian hidup yang pernah aku hadapi bahkan hingga
saat ini aku masih berusaha menjalaninya.
Sejak lahir, aku termasuk anak yang sehat dan normal. Aku
jarang sakit dan hari-hari ku berlangsung seperti anak-anak pada umumnya. Hingga
pada saat aku berada di kelas 3 SMA tepatnya saat aku berumur 18 tahun, aku
harus menghadapi cobaan yang sangat berat dalam hidupku. Aku mengalami penyakit
tumor tulang (Osteochondroma) di kaki sebelah kananku, tepatnya dibetis dan
dibelakang lututku. Penyakitku itu terjadi secara tiba-tiba, sebelumnya tidak
pernah ada tanda-tanda yang menunjukkan tumor itu berkembang, hingga aku
mengetahuinya ketika aku merasakan sakit di betis ketika aku berdiri dan ada
benjolan yang menghalangi pergerakan kakiku.
Selama
aku sakit, kegiatan dan tenagaku menjadi terbatas. Aku tak bisa lagi berlari
seperti dulu. Jangankan untuk berlari, berjalan saja aku sangat susah, bahkan
saat jongkok aku harus berpegangan agar tidak terjatuh. Saat berdiri pun aku
tidak senormal dulu, aku tidak bisa berdiri terlalu lama karena kakiku akan
terasa sangat sakit dan berdenyut. Saat teman-temanku sedang disibukkan dengan
kegiatan dan mengurus segala hal untuk menghadapi Ujian Nasional dan Ujian Perguruan
Tinggi, aku harus menjalani berbagai pengobatan. Aku merasa sangat sedih, bahkan
aku sempat merasa takut jika tidak dapat melanjutkan pendidikanku ke Perguruan
Tinggi, karena setelah Ujian Nasional aku akan menjalani operasi. Namun
ternyata, Tuhan punya jalan lain untuk hidupku. Aku mendapatkan kesempatan
untuk mengikuti jalur undangan untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Aku
memilih jurusan yang aku inginkan dan Alhamdulillah aku lulus seleksi dan
diterima di Universitas Sumatera Utara. Saat mengetahui aku lulus, aku sangat
bersyukur, bahkan aku menangis saat memberitahukannya kepada orang tuaku. Dibalik
badai yang sangat deras pasti ada pelangi setelahnya. Begitu pula dibalik
kesedihan pasti ada kebahagiaan yang menantikan.
Tepat pada bulan puasa hari pertama, aku menjalani
operasi disalah satu rumah sakit di Rantauprapat. Rasanya aku tak pernah
berpikir akan mengalami hal seperti itu, harus terbaring diatas brankar rumah
sakit dengan kaki yang akan dibedah. Saat itu, walaupun aku merasa khawatir
ketika menjalani operasi, tapi aku sangat semangat ingin segera melakukannya
agar aku bisa sembuh dan kembali berjalan normal. Namun ternyata, yang terjadi tak sesuai
dengan yang aku harapkan. Tumor tulang yang ada di betis memang sudah diangkat,
namun tumor tulang yang ada dibelakang lutut belum bisa diangkat karena masih
sangat kecil dan terjepit di pembuluh darah besar dan ternyata tendon di kakiku
pun memendek sehingga aku tidak bisa berjalan normal. Aku sempat merasa kecewa
dan sedih, namun aku tetap menjalani pengobatan dan fisioterapi yang disarankan
dokter. Dan sampai saat ini aku sedang berjuang untuk sembuh dari penyakitku
meskipun cara berjalanku juga belum bisa senormal dulu. Aku percaya, Tuhan tidak akan memberi cobaan
kepada hambanya, melebihi batas kemampuannya. Mungkin Tuhan percaya aku mampu
melewati ujian-Nya dan ada hal yang terbaik untuk diriku kedepannya.
Saat ini aku sudah berumur 19 tahun dan sedang menempuh
pendidikan sebagai mahasiswa di Universitas Sumatera Utara, jurusan Ilmu
Komunikasi. Di kota Medan ini, aku mulai belajar menjadi lebih mandiri, karena
jauh dari keluarga dan harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang
lebih besar. Walaupun kondisi kesehatan belum sepenuhnya membaik dan aku memiliki
keterbatasan dalam beraktifitas, namun aku tetap berusaha melakukan kegiatan
perkuliahanku sebaik mungkin.
Aku
mengikuti perkuliahan seperti mahasiswa pada umumnya, bersosialisai dengan
teman baru, dan mengikuti kegiatan dalam berorganisasi di kampus. Meskipun
begitu, aku juga harus menjaga kondisi kesehatanku, aku tak pernah merasa malu
atau ragu mengatakan kelemahan dan keterbatasanku dalam setiap kegiatan yang
diadakan di kampus jika itu termasuk kegiatan yang berat. Meskipun terkadang diriku si gadis pisces ini, lagi-lagi
harus terbawa perasaan setiap kali orang lain menganggap diriku seorang gadis
yang berpenyakitan atau terkadang mereka secara terang-terangan memperhatikan
cara berjalan ku yang berbeda. Ah,percayalah terkadang itu membuatku merasa
sedih. Namun, jika terus-terusan memikirkan pandangan orang lain tentang kita,
maka tak akan ada habisnya. Hanya diri kita sendirilah yang mengerti apa yang
sedang kita rasakan dan hadapi. Aku selalu menguatkan diri sendiri dan berusaha
melakukan yang terbaik agar orang lain tak memandangku sebelah mata. Hidup bukan
hanya tentang kesenangan sajakan? Maka dari itu, ketika hidup sedang diberikan
ujian dari sang pencipta, seseduh dan semenyakitkan apapun itu kau harus berusaha menjalaninya dengan ikhlas
dan melakukan yang terbaik, sebab kita dapat bersinar dengan cara kita sendiri.
Begitu pula dengan diriku si gadis pisces yang memiliki banyak kekurangan ini,
akan selalu berusaha untuk bersinar dengan caranya sendiri. Segala hal yang terjadi
kemarin, saat ini, atau esok adalah bagian dari cerita hidupku yang akan terus
berlanjut.
Semangat Dinda! Badai pasti berlalu, setiap hal pasti ada hikmahnya ❤️
BalasHapus